Koneksi Antar Materi Modul 3.1

 

Koneksi Antar Materi Modul 3.1

TUTI KAMILA SUKMA, S.Pd

CGP Angkatan 4

Kabupaten Pesisir Selatan

 

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Alhamdulillah, rasa puji dan syukur saya sampaikan  kepada Allah SWT yang senantiasa memberi kesehatan,  kemampuan dan kesempatan  untuk mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 4 ini. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Sulistiyono, M.Pd sebagai Fasilitator dan Ibu Sri Rejeki, S.Pd sebagai pengajar praktik, yang telah memberikan bimbingan, motivasi dan semangat untuk terus berbuat dan be rangkaian proses pembelajaran sampai ke tahap ini. Semoga sayrkarya dan mengerjakan seluruha bisa menyelesaikan Program Pendidikan Guru Penggerak ini dengan sangat baik dan bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan  saya bisa mewujudkan praktek pembelajaran yang saya dapatkan selama mengikuti program guru penggerak ini yang  bertujuan untuk  memberikan praktek pembelajaran yang berpihak kepada murid  menuju merdeka belajar dan mengimbaskan materi yang didapat kepada rekan guru demi terwujudnya profil pelajar pancasila.

 

Pada artikel kali ini, izinkan saya menjelaskan Saya Tuti Kamila Sukma,S.Pdsiap untuk mengikuti Diklat 40JP Optimalisasi Bahan & Media Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka Belajar. Yuk ikutan juga, jangan sampai ketinggalan!!!

              

              

(Mention 3 atau lebiSaya Tuti Kamila Sukma,S.Pdsiap untuk mengikuti Diklat 40JP Optimalisasi Bahan & Media Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka Belajar. Yuk ikutan juga, jangan sampai ketinggalan!!!

              

              

(Mention 3 atau lebihbingkai Twibbonize ini melalui twb.nz/diklatmerdeka

Jangan lupa ikuti @twibbonize_id untuk mendapatkan update terbaru!

#semuabisabelajar #Diklat #diklat40jp #pelatihan #pelatihan40jp #diklatonline #twibbonizeh temanmu)

Dapatkan bingkai Twibbonize ini melalui twb.nz/diklatmerdeka

Jangan lupa ikuti @twibbonize_id untuk mendapatkan update terbaru!

#semuabisabelajar #Diklat #diklat40jp #pelatihan #pelatihan40jp #diklatonline #twibbonize antar materi modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dimana  dari setiap materi yang sudah dipelajari pada modul 3.1 ini memiliki keterkaitan  dan koneksivitas dengan modul-modul sebelumnya. Keterkaitan itu bentuknya  bisa saling melengkapi  dan menguatkan. Untuk membantu saya menjelaskan keterkaitan tersebut, ada 10 pertanyaan yang akan saya jawab, sehingga tergambar keterkaitan antar modul tersebut.

 

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Patrap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

 

Ki Hajar Dewantara merupakan pencetus asas-asas pendidikan yang kita kenal sebagai patrap triloka. Patrap triloka terdiri atas tiga semboyan yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo (didepan memberi teladan) , Ing Madyo Mangun Karso (ditengah membangun karsa dan motivasi dan Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi dukungan). Kaitannya dengan hal tersebut, adalah seorang guru harus mampu menguasai kepribadian yang dituntut dari  filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD) yang menjadi pedoman bagi guru untuk mampu menerapkan fungsi asas triloka tersebut, kaitannya dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran maka guru harus mampu menjadi teladan, memberi motivasi, dan memberi dukungan kepada muridnya, sehingga murid memiliki kesempatan untuk mengembangkan  berbagai potensi yang dimiliki murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat  zaman.

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Sebagai seorang guru, kita memang sudah dipandang sebagai seorang yang diteladani ditengah masyarakat. Nilai diri yang ada dalam diri yang  diakui oleh masyarakat sebagai kelompok yang cerdas dan intelektual harus diiringi dengan kecerdasan sosial dan emosional. Oleh sebab itu pembentukan nilai diri harus dilakukan dalam upaya menjadi teladan bagi muridnya, masyarakat sekitar dan juga rekan sejawat. Keputusan-keputusan yang diambil oleh seorang guru yang memiliki nilai-nilai kebaikan dalam dirinya akan mampu melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.

 

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya?

 

Untuk memudahkan seorang guru dalam pengambilan keputusan yang tepat yaitu keputusan yang berpihak kepada murid, maka seorang guru harus memilki kemampuan coaching. Salah satu model coaching yang mudah untuk dipahami dan dijalankan adalah coaching model TIRTA. Model TIRTA ini dikembangkan untuk dapat membantu seorang guru atau coach dalam menuntun murid atau coachee menemukan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan memanfaatkan komunikasi positif melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka, kreatif, eksploratif dan  reflektif yang dapat membuat murid menemukan sendiri solusi dari permasalahannya serta mampu membuat komitmen kapan dan dilaksanakan, siapa yang akan membantu, mengawasi dan bentuk komitmen dari murid terhadap hasil keputusan yang telah dibuat.

 

Coaching model TIRTA itu sendiri adalah Tujuan, Identifikasi Masalah, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. Melalui coaching pengambilan keputusan yang telah diambil dapat direfleksikan kembali sehingga menjadi keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan karena setiap keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap masa depan murid kita.

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

 

Kemampuan guru dalam mengelola dan mengembangkan sikap sosial dan emosional seorang pemimpin pembelajaran menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan. Guru yang memiliki kemampuan sosial dan emosional yang baik maka pada saat mengambil keputusan tidak akan gegabah, tidak egois dan merasa paling benar. Guru akan menjadi lebih arif, berfikir yang jernih dan mengesampingkan ego pribadi serta mampu menerapkan  prinsip dan nilai-nilai kebajikan yang ada dalam dirinya, sehingga keputusan yang diambil akan benar, baik dan menyenangkan bagi semua orang atau paling tidak sudah memenuhi kaidah dalam pengambilan keputusan yang tepat.

 

Kecerdasan sosial dan emosional tersebut tentu akan menjadikan seorang guru lebih berwibawa dan bijak dalam pengambilan sebuah keputusan. Keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat. Ketepatan dalam pengambilan keputusan itu pada akhirnya akan berdampak positif terhadap anak murid, rekan sejawat, dan tentunya bagi lembaga pendidikan atau semua warga sekolah, sehingga terciptanya lingkungan sekolah yang positif, kondusif, aman,  nyaman dan mengurangi pergesekan yang timbul selama ini.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

 

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, seorang guru harus mampu melihat permasalahan yang dihadapi, apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika (benar lawan benar) atau bujukan moral (benar lawan salah) . Dengan nilai-nilai yang dimiliki seorang guru baik nilai mandiri, kreatif, inovatif, kolaboratif, maupun reflektif maka seorang guru dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali dan mengembangkan potensi yang dimiliki  dalam mengambil sebuah keputusan dan mendapatkan sendiri solusi dari masalah yang dihadapi. Pada dasarnya kita semua telah memiliki ilmu tentang dilema etika maupun bujukan moral, karena itu merupakan kebijakan yang bersifat universal.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

 

Agar keputusan yang diambil  tepat, benar  dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman, maka Guru harus mengetahui dulu tentang  dilema etika, bujukan moral dan juga menyeimbangkan kemampuan pengetahuan yang dimiliki dengan kecerdasan sosial dan emosional, sehingga mampu  mengambil keputusan yang tepat, benar dan berdampak positif sehingga tercipta lingkungan yang kondusif, positif, aman dan menyenangkan.

 

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

 

 

Oleh sebab itu, bagi saya kegiatan pengembangan diri guru merupakan hal baik dalam meningkatkan kapasitas sebagai pemimpin pembelajaran, sehingga akan dapat mengambil sebuah keputusan yang teruji dan terukur. Keputusan yang teruji dan terukur hanya dapat diterapkan dengan baik manakala adanya kesamaan paradigma pengambilan keputusan yang tepat, sehingga akan memberikan keputusan yang bertanggung jawab dan benar. Muaranya, kemerdekaan belajar bagi anak murid dan profil pelajar Pancasila dapat terwujud.

 

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

 

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran sangat berdampak bagi perkembangan muridnya. Keputusan yang salah akan merugikan murid ke depannya. Oleh karena itu, Ketika seorang guru mengambil keputusan wajib memperhatikan dan menerapkan langkah yang dikenal dengan konsep  4-3-9 yaitu 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan seperti apa yang telah dijelaskan pada modul 3.1, jika konsep ini diterapkan,  maka keputusan yang kita ambil akan berdampak baik kepada murid karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid, sehingga dengan keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh murid karena keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran,   telah mampu memerdekakan mereka dalam belajar.

 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 

Karena Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dapat membawa murid menuju kebahagiaan atau malah menghilangkan masa depan mereka. Oleh karena itu,  seorang guru harus benar-benar memperhatikan kebutuhan belajar murid. Dengan keputusan yang sudah mempertimbangkan kebutuhan murid, maka murid dapat menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru dapat ke pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar dan menuntun murid dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Sehingga dengan memperhatikan kesemua itu dalam mengambil keputusan maka keputusan yang diambil dapat berpengaruh terhadap keberhasilan murid dimasa depannya nanti.

 

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

 

Kesimpulan akhir dari keterkaitan antara modul  3.1 Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk memberikan  kemerdekaan kepada murid dalam belajar. Sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.  Untuk itu perlu kemampuan yang dapat mengakomodir hal tersebut seperti nilai dan peran guru, kemampuan dalam membuat langkah ke depan, membangun visi dan misi sekolah yang positif dan menghargai perbedaan murid, kemampuan dalam mengatasi permasalahan murid yang menyimpang, kemampuan memahami perbedaan murid, gaya belajar mereka dan juga kemampuan dalam mengelola sosial dan emosional sehingga menjadi guru yang prima, yang objektif dan reflektif.

 

Dalam melaksanakan proses pendidikan, guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching dengan model TIRTA akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran. Sehingga dengan keterampilan coaching ini dapat membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri. Tidak sebatas pada murid, keterampilan coaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran.

 

Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfulness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Dengan begitu maka akan terwujud pembelajaran yang berpihak kepada murid atau merdeka belajar dan Profil Pelajar Pancasila dapat terwujud, Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kegiatan Gebyar Vaksinasi Covid 19 di SMAN 1 Lunang